Napak tilas terbentuknya INTIRA bermula pada tahun 2025, lahir dari keprihatinan sekelompok akademisi dan tokoh masyarakat yang berasal dari berbagai disiplin ilmu — termasuk ekonomi, politik, dan studi keagamaan — terhadap ancaman nyata perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Gagasan pembentukan INTIRA diwujudkan dengan inisiatif para akademisi muda yang mengajukan permohonan kepada akademisi senior, termasuk Faried F. Saenong Ph.D, Prof. Anna M. Gade, Teguh Yudo Wicaksono, dan Prof. Michiel Schaeffer sebagai anggota Wali Amanat.
Seiring berjalannya waktu, INTIRA berkembang menjadi lembaga yang produktif menghasilkan berbagai output: dari riset dan publikasi ilmiah hingga program peningkatan literasi di bidang keberlanjutan lingkungan, agama, dan sosial-ekonomi.